MASYA ALLAH PENYAKIT BAHAYA,,MENGINTAI KITA SEMUA,,!!! Virus M3m*tik4n Ini Sudah Ada di Indonesia, Telisik dan Pahami “Zika” Baca Selengkap Nya??

Oran, satu kota yg tidak kian lebih pusat pemerintahan daerah tingkat satu Prancis di pantai Aljaizar, terguncang dengan tiga kata “ini sudah terjadi”, yaitu wabah sampar.

Masyarakat kota yang semula sukai berterus jelas dalam papar wicara, ramah, serta gesit dalam tingkah laku serta-merta terganggu, lalu terdiam karena wabah sampar.

Ya, wabah sampar, merubah tingkah laku semua masyarakat kota Oran, yang semula senasib sepenanggungan jadi repot sendiri-sendiri menyelamatkan diri pribadi, yang semula sarat kemesraan dengan beberapa suami serta beberapa istri yang bersetia, saat ini malah menginginkan sama-sama menjauh. Beberapa lelaki yang semula dicap sebagai hidung belang beralih jadi setia.

Drama wabah sampar mengguncang semua masyarakat Oran, seperti dicetuskan dalam satu novel berjudul La Peste yang ditulis sastrawan serta filosof k3l4hir4n Prancis, Albert Camus, lalu ditranslate dalam bhs Indonesia oleh Nh. Awal dengan judul Sampar.

Sebagai penderitaan yg tidak terperikan, wabah sampar bikin semua masyarakat Oran tak akan pikirkan serta melihat ke hari esok. Sampar merenggut nyawa sanak saudara, suami atau istri terkasih, buah hati tercinta, lantaran hari esok tinggal masa lalu. Sampar menggenapi kredo kalau tiap-tiap bayi yang lahir telah ada di jalan k3*m4ti*n.

Bau k3m*ti4n dilukiskan Camus sebagai kenyataan. Manusia terima serentak menampik k3m*ti4n lantaran “aku menginginkan hidup seribu th. lagi”.

“Demikianlah semasing dari kami mesti hidup cuma pada saat saat ini, sendiri hadapi takdir. Rasa pasrah yang rata itu mungkin saja dapat menguatkan batin… di puncak kesendirian itu, tidak seseorang juga dapat menginginkan pertolongan tetangga, lantas semasing menanggung kesusahannya…, ” catat Camus yang lahir di Mondovi Aljazair pada tanggal 7 November 1913, serta meninggal dunia pada tanggal 4 Januari 1960 dalam kecelakaan mobil diantara kota Sen serta Paris di Prancis.

Kehadiran momen k3l*hir4n bersamaan dengan kehadiran k3m*ti4n, selanjutnya membawa rasa pasrah serta sulit yang perlu dipikul oleh masing-masing manusia. Di mata mahkamah k3m*ti4n, manusia “terkutuk oleh waktu”. Waktu k3m*ti4n tiba, tak ada seseorang makhluk juga yang tahu serta memperkirakan k3m*ti4n. Semua serba absurd.

Yang absurd menyambangi tiap-tiap manusia saat momen lahir lalu m4*ti. Penderitaan serta penyakit yang datang silih bertukar, k3l4hir4n serta k3m*ti4n yang tentu tiba, menimbulkan satu pertanyaan : “Harus bagaimana manusia hadapi kenyataan dunia yang serba absurd ini? ” Jawabannya, dunia nyatanya tak dapat penuhi hasrat serta harapan manusia. Demikian manusia bermegah dengan kemuliaan diri, serta-merta “yang absurd” (tanpa ada makna) datang menyambangi seraya berucap, berusahalah hidup bermodal pengharapan, namun janganlah sesekali terjerembab dalam keputusasaan.

Oran terkena sampar, serta dunia saat ini terkena virus Zika serta ebola satu tahun lantas. Kabar berita mass media global mengangkat satu kata, yaitu Zika.


Dengan kegemparan serta kekhawatiran seperti dihadapi masyarakat Oran, saat ini 18 negara diliputi ketakutan. Virus Zika menempa Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname, serta Venezuela.

Virus Zika seperti sampar, keduanya sama menyebabkan k3m*ti4n. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan kalau virus yang mengakibatkan cacat lahir itu menebar secepat kilat di Amerika serta menginfeksi empat juta manusia.

Virus Zika, mengakibatkan bayi mempunyai kepala abnormal, kecil, serta otak berkurang. Berdasar pada data th. 2015, di Brasil diketemukan masalah Zika sampai beberapa ribu temuan dengan 500 lebih masalah terkena oleh ibu hamil pada bln. Desember 2015.

Dari jumlah itu, diketemukan 150 masalah ibu hamil yang pada akhirnya melahirkan bayi dengan mikrosefalus. Menurut kabar berita CNN dengan cara keseluruhan diprediksikan berlangsung penambahan bayi dengan mikrosefalus sampai 4. 000-an masalah selama th. 2015 sampai Januari 2016.

Bagaimana dengan Indonesia? Instansi Biologi Molekuler Eijkman temukan virus Zika di Indonesia pada th. 2015. Deputi Direktur Eijkman Herawati Sudoyo menyampaikan saat itu Eijkman disuruh mempelajari sampel d4r*h dari daerah endemi demam berd*r4h dengue di Jambi.

“Kami mempelajari 200 sampel yang tanda-tanda klinisnya serupa demam berd4r*h. Tetapi, sesudah diuji dengue, akhirnya negatif, ” kata Hera di Jakarta, Selasa (2/2).

Dari 103 sampel yang di check serta di teliti, satu salah satunya positif virus Zika. Menurut Hera, virus ini diketemukan pada sampel d4r*h pasien lelaki berumur 27 th. yg tidak pernah melancong ke luar negeri.

“Jadi, telah ada Zika di Indonesia, ” tuturnya menyatakan.

Terkecuali instansi Eijkman, Namru pernah temukan virus Zika di Indonesia pada th. 1977-1978. Saat itu, instansi itu tengah mempelajari sampel d4r*h pasien dengan tanda-tanda klinis seperti demam berd4r*h dengue yang dirawat di Tempat tinggal Sakit Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah. Sampel d4r*h tujuh pasien tunjukkan terinfeksi virus Zika.

Menurut laman resmi Departemen Kesehatan Indonesia, bahaya paling besar dari serangan virus Zika malah nampak pada ibu hamil. Ibu hamil yang positif mempunyai virus itu kemungkinan besar dapat menularkan virus itu pada janin dalam k4ndung4nnya. Virus Zika bakal menyerang jaringan otot serta system saraf, termasuk juga system saraf pusat di otak dari j4nin.

Dunia, termasuk juga Indonesia, tengah terkena “yang absurd”, yaitu virus Zika. Apakah dengan kondisi tanpa ada makna ini, manusia sejagat berbarengan manusia Indonesia mengamini kredo kalau demikianlah keadaan manusia selanjutnya? Lantas, manusia dituntut menerimanya? Di dalam sergapan yang absurd dalam kondisi Oran seperti ditulis Camus, dalam bayang-bayang 4nc4*m4n virus Zika, tak ada salto untuk menyerah tanpa ada harapan dengan menyembah seraya menyebutnya sebagai takdir atau nasib.

Camus merekomendasikan pada manusia supaya hidup dengan “b3r0nt*k” (revolt), berarti berkonfrontasi terus-menerus dengan sumber k3m4ti*n. Langkahnya, mencari harapan penyebabnya penyakit tanpa ada mesti mengulang-ulang rumusan usang kalau semuanya telah ditakdirkan atau dinasibkan.

Camus menulis, “… di dalam epidemi sampar, mereka menjaga ketidakpedulian yang membantu, yang dapat dikira sebagai satu ketenangan. Rasa sedih menyelamatkan merekan dari kepanikan, itu berarti kemalangan mereka ada baiknya… serta dia tidak memiliki saat untuk suatu hal juga. ”