Sekian hari waktu lalu, seseorang bernama Chan Tudus di Facebook mengunggah satu photo dengan caption yang bakal menggugah hati beberapa orang. Unggahan itu menghadirkan photo Riyanto dengan dengan satu tulisan berbunyi, Dia tidak butuh fatwa hukum mengatakan Natal. Dia telah melampaui semuanya. Yang dia paham : ini pekerjaan kemanusiaan.
Lihat unggahan itu, saya segera ingat dengan film “? ” garapan Hanung Bramantyo. Satu film yang menceritakan Soleh (Reza Rahadian) sebagai tokoh paling utama yang mempunyai cerita akhir hidup tragis. Dia yang bekerja sebagai Banser NU mempertaruhkan nyawanya untuk membuat perlindungan banyak nyawa yang tengah melaksanakan ibadah di gereja. Tetapi sesudah saya cari info selanjutnya, Hanung Bramantyo memanglah terilhami tindakan heroik Riyanto untuk film? . Dari pada penasaran dengan cerita seseorang pahlawan kemanusiaan, Riyanto, mending segera simak saja yuk penjelasan yang sudah Hipwee Boys kumpulkan dari sebagian sumber!
Kegiatan Misa Natal di Gereja Eben Haezer Mojokerto diganggu kekhusyukannya gara-gara sebuah bungkusan bom. Seorang pemuda lalu ambil tindakan
Malam itu,Misa Natal berjalan khusyu seperti biasanya. Namun kekhusyukan tersebut hanya berlangsung separuh setelah seorang jemaat menemukan bingkisan di salah satu sudut gereja. Seorang pemuda berseragam hijau loreng memberanikan diri mengecek isi bungkusan tak bertuan tersebut. Tak berbeda jauh dengan kisah yang diceritakan Hanung dalam filmnya.
Dengan sigap, pemuda tersebut membongkar bingkisan yang dilapisi plastik hitam tersebut. Tindakan tersebut dilakukan di depan petugas pengamanan gereja Eben Haezer lainnya, termasuk seorang polisi yang kabarnya berasal dari Polsek sekitar. Riyanto jadi orang pertama yang kaget, sebab ketika membuka bungkusan tersebut, ia menyaksikan juluran sepasang kabel.
Kebetulan, sebuah percikan api muncul dari dalam bungkusan tersebut. Keyakinan sang pemuda, bahwa bungkusan tersebut adalah bom, semakin menjadi terhadap bungkusan tersebut. Pemuda yang belum banyak diketahui namanya oleh para jemaat yang hadir dengan sigap berteriak, “Tiaraaappp!”. Kepanikan terjadi di dalam gereja. Semua orang di sana menganggap hari itu bisa jadi hari terakhirnya hidup.
Pemuda tersebut berinisiatif mengamankan bungkusan bom supaya tak ada korban jiwa. Sayang, Tuhan berkehendak lain
Kepanikan tak luput dari diri pemuda tersebut, apalagi ketika dia keluar ruangan dan langsung melemparkan bungkusan ke tong sampah. Bungkusan tersebut terpental, tapi pergolakan batin mengatakan dia harus berani mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan banyak nyawa.
Dengan inisiatifnya, pemuda tersebut lalu mengamankan bom dengan memungutnya kembali. Setengah berlari , dia hendak melemparkan bom tersebut ke tempat yang lebih jauh dari keramaian. Namun, Tuhan punya kehendak lain.
“BAM!”
Bom yang masih dalam pelukan pemuda tersebut mendadak meledak sebelum sempat dilempar ke tempat yang lebih aman. Dia meninggal seketika.
Kondisi jenazah begitu memprihatinkan dengan potongan tubuh yang berhamburan. Kepalanya sampai terlempar ratusan meter
Eksplosivitas bom ini tak main-main. Pagar tembok di seberang gereja roboh, kaca-kaca lemari dan etalase sebuah studio yang berada di depan gereja Eben Haezer pun hancur semua. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi pemuda tersebut. Tubuh pemuda tersebut tak hanya terpental, tapi berhamburan. Tiga jam pasca kejadian, beberapa sisa tubuh pemuda tersebut ditemukan berceceran hingga sekitar 100 meter dari pusat ledakan. Sungguh menyedihkan!
Hanya satu hal yang bisa membuat pemuda itu dikenal, yaitu bagian tubuh yang masih terbalut seragam. Pada seragam yang sudah compang-camping dan penuh darah tersebut tertulis nama Riyanto. Nama yang akhirnya kelak pantas mendapatkan gelar pahlawan.
Pada malam Natal itu, Riyanto merupakan satu dari empat orang Banser NU yang ditugaskan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) untuk ikut menjaga keamanan Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto. Pemuda yang waktu itu masih berusia 25 tahun tersebut memang harus kehilangan nyawanya. Namun kisahnya begitu melegenda di Mojokerto, dan di kalangan NU.
Untuk mengenang pengorbanannya, sisa seragam Riyanto jadi salah satu pengisi diorama di Museum NU Surabaya. Seragam lorengnya memang tampak pucat dengan kondisi compang-camping dan berbekas darah mendiang Riyanto yang masih menempel, tapi bagi siapa pun yang menyaksikan langsung, mereka pasti akan merasakan spirit kemanusiaan sosok Riyanto.
Tentu saja keyakinan orang boleh saja berbeda-beda. Pastinya ada orang yang tak setuju dengan artikel ini dan menganggap apa yang dilakukan Riyanto sebuah hal bodoh karena menyelamatkan orang-orang kafir. Tapi, marilah kita berhenti sejenak dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang kita sebagai manusia. Jangan memakai sudut pandang Tuhan yang kita sudah pasti tidak tahu. Apapun itu, Riyanto menyelamatkan banyak nyawa. Dari sudut pandang manusia biasa, tidak ada yang buruk dan tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukannya.
Akhir kata, walaupun banyak media yang tak ikut mengangkat kisah ini, Riyanto tetaplah junjungan yang harus ditanamkan spirit-nya di dalam jiwa kita. Dia tak hanya jadi pahlawan bagi nyawa-nyawa selamat dalam kejadian tersebut, tapi juga pahlawan Pancasila dan pahlawan kemanusiaan.
